Our Journey to The Future

Our Journey to The Future

Jumat, 25 November 2011

[cerita makassar] tentang dipesawat

Bismillah...

alhamdulillah sudah lumayan seger setelah kemaren berasa capek banget.

sampai Surabaya hari rabu sore. disambut dengan cuaca yang cukup cerah, dan jalanan macet karena jam bubaran pabrik [maklum ngelewatin Rungkut industri yang penuh dengan pabrik]

kamis pagi, baru balik ke rumah sidoarjo.

cerita tentang Makassar insya Allah akan ditulis dalam beberapa cerita. mudah-mudahan bisa lancar nulisnya :D

nah untuk yang perdana, mau cerita tentang kejadian-kejadian di pesawat.

entah kenapa ya, sejak awal berangkat, didalam pesawat ada saja kejadian yang tidak menyenangkan. yang bikin jadi esmosi tingkat tinggi.

diawali saat berangkat.
sebenarnya berangkat dengan kondisi hati riang. maklumlah euforia mudik setelah lima tahun nggak pulang :p

setelah duduk dikursi masing-masing, kamipun bersiap menunggu pesawat take off.
dina sudah duduk manis dipangkuanku. sabuk sudah oke.
pramugari mulai memperagakan pemakaian vest.

eehhh..
ibu-ibu dibelakangku, masih sibuk bertelepon ria [masih biasa aja, karna pikirku, okelah pesawat belum jalan]
si ibu masih sibuk telpon-telponan masalah hotel. kalo dari logatnya, logat makassar.
sekitar semenit, dia sudah berhenti menelpon, meski aku masih menangkap kalo dia menyuruh orang yang ditelpon, untuk meng-sms-nya. berarti kan teleponnya masih on.

pas pesawat mulai jalan, ehhhh la kok telp lagi.
mulai lah aku jengkel.

spontan aku langsung bilang 'bu, hp nya, pesawat sudah jalan'
eeehhhh bergeming tuh ibu
dua kali aku ngomong, eh dicuekin.
langsung aja suaraku aku keraskan
'IBUUUU PESAWATNYA SUDAH JALAN. HPNYA TOLONG DIMATIKAN'

barulah si ibu itu mematikan hpnya.

duh dongkol banget. mana sebelahnya si ibu itu malah ngeliat aku dengan pandangan aneh. mentolo lempar golok aja [esmosi]

mungkin aku dianggap aneh kali ya, karena meributkan itu.

ketika pulang. sekali lagi dapet kejadian menjengkelkan.
kebetulan kami memutuskan naik kepesawat diakhir-akhir. maklum bawa dina, jadi biar ga umpel-umpelan gitu. dan memang pas kami naik, sebagian besar sudah duduk ditempat masing-masing.

KECUALI ditempat duduk kami. sudah ada dua orang yang dengan cueknya duduk manis, sementara aku yg lagi gendong anak, kebingungan.

aku tanya sama bapak yang duduk diujung. bapak nomor berapa?
tiga enam.
la ini kan tiga tujuh pak
iya nggak papa mi, duduk disana, sambil nunjuk tempat duduk yg seharusnya dia dudukin. WHAT [duh kagak bisa mencet tombol tanda seru nih:P]
ehhh si ibu-ibu yang duduk disebelah jendela bilang yang sama.
'tidak papa mi duduk disana'
EEEHHHHH MAKSUDNYAAAAAA

langsung ajah aku samber.
'TIDAK BISA MI, IBU PINDAH KETEMPAT IBU'
'tidak papa, saya disini mi'
'NGGAK BISA, IBU KEMBALI. INI SATU KELUARGA. IBU PINDAH. mana nih pramugarinya' aku mulai toalh toleh nyari pramugari, dan mau manggil.

akhirnya dua orang itu pun balik ketempat masing-masing. agggghhhhh apa coba maksudnya.
aku ga berhenti ngomel-ngomel

entah ya, aku kok jadi melihat betapa sekarang ini banyak orang yang sudah semaunya. egois memikirkan diri sendiri.

si ibu yg sibuk bertelepon, dia cuma mikir tentang dirinya. dia tidur dihotel mana, apa fasilitasnya. tanpa memikirkan kalau sinyal hp nya bisa menganggu sistem navigasi. kan bahaya banget tuh

si ibu dan bapak yang duduk ditempat kami. mereka mengambil sesuatu yang bukan haknya. dengan cuek dan santai sementara kami yang berhak, kebingungan.

aku pun jadi belajar, kalau kita benar, jangan takut untuk bertindak. meski mungkin orang melihat kita dengan aneh.
mungkin orang lain merasa tidak ada tanggung jawab untuk mengingatkan. lalu kalau semua seperti itu, maka sesuatu yang sebenarnya salah, karena dibiarkan, akhirnya dianggap benar.

jadi jangan takut menyatakan suatu kebenaran.

mohon maaf ya, kalo pas baca postingan ini, berasa kalo si empu sedang esmosi. karna memang, sampai saat menulis sekarang inipun, aku masih emosi mengingat kejadian-kejadian kemarin.

tapi insya Allah cerita Makassar lainnya menyenangkan kok ^^

ya suds, segini dulu cerita perdana Makassar. mau nidurkan mbak kecil dulu ya ^^

8 komentar:

ketty husnia mengatakan...

hai mbak..senangnya sudah kembali ke tanah sendiri :)
naik pesawat serasa naik kereta mataremaja (KA EKONOMI) ya mbak??
maklum,..mungkin pesawat itu angkutan yang biasa maksudnya biasa disamakan dengan bis umum gitu hehehe

Lyliana Thia mengatakan...

hah kok malah mbak Ita yg diliatin aneh gitu sih?

aku dah lama nggak naik pesawat nih mbak, ternyata begitu ya kelakuan orang2 kebanyakan... hmmph... begimana sih ya... kok pramugarinya diam saja..

*loh kok aku ikut sewot..* wkwkwk...

Dina.. kalo sempet tolong kerjain PR lagi ya... ihihihi

http://www.thegreenpensieve.com/2011/11/sebelas-di-bulan-sebelas.html

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

waduh itu mah namanya gak tau etika naik pesawat. hehhee

Elsa mengatakan...

heran deh Mbak...
biasanya kan kalo pesawatnya mau jalan. pramugari suka ngecek lagi tuh. kalo masih ada yang nelpon, suka diperingatkan. lhaaa ini kok... sampe pesawat udah jalan, pramugarinya diem aja ya????

ck ck ck

kebangeten!!

kasihan ya orang seperti itu. mungkin dia belom pernah membaca dan gak pernah tau bahwa obrolannya di HP yang gak penting itu bisa membahayakan keselamatan seluruh penumpang pesawat!

Baby Dija mengatakan...

dija belom pernah naik pesawat

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

biasanya aku sih bilang ke pramugarinya supaya dia yg menegur

Bayu Hidayat mengatakan...

iya sih parah kalo sistem navigasi nya rusak. bisa satu pesawat jatoh

Gaphe mengatakan...

pesawat apa mbak?. ihihihi.... kayaknya saya tau deh.. singa udara bukan?.

soalnya yang sering begitu sih itu..

kalo saya sih daripada tereak-tereak, menjentikkan tangan ke pramugarinya aja trus bilang ke pramugarinya.. let she do her job